Experience and Dream

Hi I'm Tika Kusumawati. You just can call me Tika. OK!
Writing is a container of inspiration for me. I write what I've experienced, I write whatever I love.

Menikmati Hidup di Iklim Tropis

Pada dasarnya banyak orang di belahan dunia lain menginginkan keadaan iklim tropis seperti layaknya di Indonesia. Akan tetapi sebagian dari masyarakat kita justru ingin hidup di negara beriklim salju/microtherma. Tapi namanya juga manusia pasti ada yang selalu beranggapan “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”. Walaupun mungkin bagi yang telah merasakan jauh lebih baik dan nyaman untuk hidup di negeri sendiri.

            Hidup di negara beriklim tropis tentunya kita pasti sering berjumpa dengan namanya matahari, kemarau, keadaan dimana cuaca menjadi sangat panas. Musim kemarau mungkin menguntungkan bagi industri pariwisata di Indonesia. Karena sebagian wisatawan asing banyak berlari ke Indonesia untuk menikmati hangatnya matahari selama summer holidays. Keadaan ini justru berbanding terbalik bagi sebagian besar masyarakat lokal. Musim panas atau kemarau justru menjadi ajang untuk mengurangi aktifitas fisik atau kegiatan di luar rumah dan tempat kerja, alasannya simpel “takut kulit menjadi gosong/hitam” :D. Padahal pada dasarnya matahari memberikan cukup banyak dampak positif diantaranya bagi kita yang hidup di negara tropis beraktifitas jadi lebih mudah, cuaca yang cerah menjadikan kita semangat untuk bangun lebih awal karena matahari sudah terlihat cukup tinggi, dan terutama bagi para petani tembakau, kemarau merupakan masa emas bagi mereka dimana mereka dapat menghasilkan tembakau dengan kualitas baik untuk di jual ke pasaran. Namun tentunya dampak negatif dari musim kemarau dapat menyebabkan tubuh kita cepat berkeringat walaupun tidak banyak melakukan aktifitas fisik, kekeringan di beberapa daerah dan penyakit radang tenggorokan serta diare yang siap menghampiri jika kita tidak me-filter asupan makanan yang akan masuk ke tubuh serta kebersihan makanan tersebut.

 Lain hal nya jika telah masuk musim penghujan. Malas beraktifitas, banjir di beberapa kota padat lingkungan, dan penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), penyakit kulit dll dengan mudah menyerang. Tapi yang patut di syukuri di saat musim penghujan yaitu tanaman akan tumbuh dengan subur, cuaca lebih sejuk, dan dampak kekeringan sebelumnya pun dapat teratasi jika hujan telah turun.

Beberapa teman asing yang saya kenal sering mengatakan ” kamu seharusnya senang, bisa menikmati dan merasakan hangat nya matahari sepanjang tahun. Kita disana selama salju, mau keluar rumah harus menggunakan pakaian dengan lengkap. Mulai dari sepau boots, pakaian hangat berlapis, mandi harus cepat karena hemat air. Sampai harus punya anggaran sendiri untuk menghabiskan liburan musim panas, dan bagi etnis seperti kami yang tidak memiliki cukup uang untuk bisa menikmati liburan musim panas di luar daerah otomatis musim panas hanya dinikmati di daerah kami saja dengan intensitas matahari seadanya. Tanpa bisa menikmati hangatnya matahari seperti disini (Indonesia). Berbanding terbalik dengan kita orang Indonesia setiap musim panas dan hujan selalu mengeluh seperti “Aduh.. panas nya ini keterlaluan” atau “Banjir dimana – mana, macet dimana – mana”. Padahal sesungguhnya banjir dan kemacetan ini adalah sikap manusia di sekitar lingkungan itu sendiri yang kurang disiplin dan ceroboh.

 Hal ini menyadari saya bahwa hidup nikmat itu tergantung bagaimana cara kita menikmati dan mensyukuri nya. Sesuatu yang elok di pandang mata belum tentu se-indah dengan aslinya.

Looks Perfect but Fragile

Sad to see people who think that wearing hijab is a good woman. You need to know that hijab in islam is a must. Does not all hijabers are sacred. True story of a witness who ex-worker in A*a*i* (now she is an housemaid in my friend’s house), that some hijabers in a*a*i* having some behavior as naughty women. There’s also hijabers who like drinking alchohol, smoking, and going to the club. Does not only in s**di a***ia but also in *n*ones** much enough hijabers like that as far as i see. But I’m grateful still have hijabers friends which is they so kind to me and also religious.

I grew up with the teachings of Islam that is devout. This time I have not been wearing hijab and my parents doesn’t impose me to be hijabers. Let guidance comes into my self someday. It’s quite wise, isn’t it?

Please read, I am not intending to discriminate against the hijabers. But probably it’s only a little bit advice for hijabers out of there, put on your hijab as good as possible don’t because it was forced. Compulsion will ruin your image of yourself as a Muslimah. Of course with your actions like that image of islam to be bad.

At the point it’s remind me of an american proverb "don’t judge a book by it’s cover". Because kindness and badness own self in the eyes of others is reflected how the way we behave. But basicly how big kindness and badness have we done only Allah can calculate it!

p.s: trust me that everything who forced in the ends definitely not going well.

Regards

Learn and work hard while you are young. Because success begins from hardship and work hard today.

—just say what in my mind. -tika

BAD DAY

yesterday was the worst day for me. after worked out i get caught in rain,
vehicle stalled and nothing anyone help me, and finally I couldn’t took the exam because it was too late.

How did can happen? because here is not my hometown. if only  i’m living near from parents house, my daddy would be come immediately to help me and I could go take a taxi or take his vehicle for a while.

how complicated my life that I feel when living away from parents.
but this should be do. because we do not always live with our parents and
eventually we will be parents too. readers you must have felt it, don’t you?